Minggu, 22 Desember 2019

TARLING YANG MEWABAH KE MANCANEGARA


Tarling merupakan kesenian yang berasal dari daerah Kabupaten Indramayu yang bertempat di desa Kepandean pada tahun 1931. Taling merupakan sebuah kesenian musik yang berasal dari alat musik itar atau biasa disebut gitar dan suling yang biasa kita sebut seruling. Tarling yang merupakan salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara atau yang biasa kita sebut pantura Jawa Barat ini memiliki istilah “ yen wis mlatar gage eling “ yang artinya andai banyak dosa segeralah bertaubat.
            Tarling yang memiliki sejarah yang pada saat itu, ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada warga setempat yang bernama Mang Sakim untuk memperbaiki gitarnya yang sedang rusa. Mang Sakim yang pada saat itu deikenal sebagai ahli gamelan. Akhirnya, Mang Sakim pun memperbaikinya. Tetapi setelah gitar milik komisaris Belanda tersebut telah selesai diperbaiki oleh  Mang Sakim tenyata sang komisaris Belanda tersebut tidak mengambil kembali gitar miliknya. Dalam kesempatan tersebut, Mang sakim menggunakan gitar milik komisaris belanda tersebut untuk mempelajari nada-nada gitar yang bernada diatonis dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis yang berasal dari sebuah alat musik gamelan. Keindahan dari nada-nada gitar yang mmebuat tembang-tembang dermayonan dan cerbonan menjadi lebih indah dengan iringan petikan dari gitar. Keindahan semakin lengkap ketika petikan dawai gitar diiringi dengan tiupan dari salah satu alat musik yaitu suling bambu, suling yang digunakan dalam musik Tarling adalah suling diatonis, bentuknya miring yang menjadikan kesenian musik tarling ini mewabah ke masyarakat daerag Indramayu dan Cirebon pada tahun 1930-an.
            Ketika kesenian jenis musik tarling ini sudah mewabah di daerah Kota Cirebon. Ada seorang yang sangat menyukai kesenian musik yang kita ketahui yaitu bernama Djana Pertanain. Djana Pertanain atau yang biasa kita sebut Mang Djana. Mang Djana adalah seorang nayaga yang dikenal sebagai penabuh gitar dalam kesenian taling. Mang Djana ini tidak mempersoalkan tentang dirinya seberapa penting dirinya dalam dunia kesenian tarling ini. Mang Djana yang lahir pada tahun 1936 ini dibesarkan di wilaayah Pekalangan Kota Cirebon. Ditempat inilah untuk pertama kalinya mang Djana membangun sebuah grup tarling yang bernama paduana yang bisa diartikan dalam bahasa Indonesia yang artinya asal ada dan dibangun bersama Surina, Sakim, Marja, dan Minggu. Bakat Mang Djana semakin terasah di grup ini. Grup tarling ini merupakan grup tarling yang bisa dibilang populer dan berisi orang-orang yang memiliki peran penting bagi perkembangan musik tarling.
            Mang Djana pun mendirikan sebuah tempat latihan untuk kesenian musik tarling ini, Sanggar Chandra Kirana. Sanggar Chandra Kirana merupakan salah satu tempat untuk berlatih kesenian musik tarling di Kota Cirebon. Sanggar Tarling Chandra Kirana ini dibangun oleh Mang Djana karena kesenangan Mang Djana pada kesenian musik tarling membuat mang djana mendirikannya. Mang Djana mendirikan Sanggar Chandra Kirana ini bertujuan untuk meneruskan kesenian musik tarling agar tidak hilang dari dunia musik. Didirikannya Sanggar Chandra Kirana ini membuat masyarakat tertarik pada kesenian musik tarling. Tidak hanya orang dewasa saja yang tertarik pada tarling bahkan anak-anak pun ingin sekali mempelajarinya. Karena kehobiannya dalam dunia tarling, Mang djana turun sendiri untuk melatih para anak-anak untuk bisa memainkan alat musik tarling ini. Tidak hanya dalam negeri saja tarling ini dapat mewabah ke daeraah-daerah, tetapi juga tarling sudah mewabah ke mancanegara. “ Ada orang california yang belajar tarling di sanggar chandra kirana” ucap sang pemilik sanggar chandra kirana. Bule asal California ini penasaran pada suatu kesenian musik tarling, dia mengunjungi sanggar chandra kirana untuk mempelajari bagaimana cara memainkan kesenian tarling tersebut. “ orang dari california termasuk orang yang sangat cepat untuk mempelajari tarling, dua kali pertemuan ia sudah bisa memaikan delapan lagu” kata mang djana.





Rihhadatul'aisy Zaid
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

INSTAGRAM

YOUTUBE

Diberdayakan oleh Blogger.