Minggu, 22 Desember 2019

TARLING MAMA JANA
SUJANA PARTANAIN yang akrab dipanggil mama jana  satu-satunya seniman tarling klasik di Cirebon. Tarling klasik salah satu kesenian tradisional asli Cirebon yang terlupakan, tak seperti dangdut pantura.
Mama jana menceritakan perjuangannya memperkenalkan tarling pada zaman kolonialisme. Mama jana juga tak memungkiri, zaman kolonialisme menjadi era kejayaan tarling klasik. Dikatakan mama jana, era kejayaan tarling klasik mulai meredup di era orde baru.
Dijaman orde baru sekarang sangat populer organ dangdut sedangkan kesenian tarling sudah kurang diminati oleh masyarakat .
Mama jana mengaku banyak momen yang tak terlupakan pada  masa era kejayaan tarling klasik. Mama jana harus bisa berbaur dengan para penjajah agar bisa mendapatkan kesempatan bermain tarling klasik.
“pernah ditanya-tanya penjajah, mereka khawatir kita bawa pemberontak. Khawatir sih pasti, tapi tidak pernah menjadi tahanan. Seniman mah tak dilarang,karena hiburan,”tuturnya.
Mama jana merupakan generasi kedua seniman tarling klasik di Cirebon. Sebelum mama jana,barang menjadi seniman tarling klasik pertama. Awal mula kecintaan jana terhadap tarling klasik lantaran kerap nimbrung bersama teman-teman seniman tarling waktu usianya masih 10 tahun.
Sampai mempunyai sanggar sendiri yaitu bernama sanggar “Candra kirana” dan banyak yang mengikuti sanggar tersebut. Mengikuti atau latihan disanggar candra kirana tanpa di pungut biaya sama sekali, mama jana pun memiliki murid dari luar negeri yang berasal dari California, turis tersebut ingin belajar mengenai sebuah tarling,tarling yg dikenal mempunyai irama yang sangat merdu,turis dari California itu belajar di sanggar candra kirana sekitar 3 bulan lebih,ia belajar mengenai tarling .
Sanggar candra kirana ini sudah terkenal sejak lama,Menurutnya, kesenian Tarling Klasik saat ini jarang bahkan tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Padahal dulunya kesenian ini identik sekali dengan Cirebon, bahkan ditahun 1940-1950-an sempat dinamakan Melodi Kota Udang.

"Disebut demikian karena berasal dari Cirebon, dan di Balaikota Cirebon terdapat ukiran atau simbol udang," kata Mama Jana.

Jana menjelaskan, di sanggar miliknya, beberapa anak muda dari daerah lain seperti Aceh dan Benua Amerika sengaja datang berlatih Tarling Klasik. Dari hal tersebut, bisa disimpulkan kesenian ini memiliki daya tarik dan diminati orang banyak.

Seharusnya pemerintah setempat memberikan kesempatan kepada penggiat Tarling Klasik untuk tampil di pusat-pusat keramaian guna memperkenalkan kesenian asli daerahnya.

"Kalau bisa pemerintah beri kesempatan untuk main di hotel-hotel untuk," terang Mama Jana.

Jana menambahkan, hingga kini dia sangat bangga bermain Tarling Klasik, karena jarang dan bisa bermain gitar klasik. Dan untuk melestarikan agar kesenian Tarling Klasik masih ada hingga bertahun-tahun nanti, Jana sudah menurunkan keahliannya ke cucunya.

"Saya sudah turunkan ke keluarga yakni ke cucu. Bahkan cucu saya sudah bisa bermain melodi Tarling Klasik dengan baik," pungkasnya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

INSTAGRAM

YOUTUBE

Diberdayakan oleh Blogger.