Jenis musik tarling
Irama lagu tarling mempunyai irama lagunya masih lambat dan tidak ada syair atau lirik lagu yang baku, irama tarling juga memiliki suara yang khas.
“ hanya kerangka lagunya saja tempo bisa sampai 4/8 tergantung suara gongnya. Musik tarling klasik ini mirip dengan musik-musik yang biasa dinyanyikan sinden,”ucap supali.
Di fase pertama ini, beberapa pelopor tarling klasik diantaranya sugra (1940) dari kelurahan kepandean, indramayu serta jayana dari karangampel, indramayu. Sementara, di fase kedua memasuki fase tarling kiser gancang (1960-1980). Di era ini, irama lagu dalam musik tarling memberi nama lain tembang anyar,”ucap supali.
Musik-musik tarling ini masih sangat Kental irama musik nya ia mempunyai ciri khas tersendiri,sedangkan dangdut atau lebih dikenal dengan kata(organ tunggal) sudah mempunyai irama yang berbeda.
Di fase kedua ini, musik kiser gancang masih memakai notasi daerah yang berasal dari gamelan. Hanya saja difase kedua ini tempo dan iramanya lebih cepat. Beberapa contoh musik tarling klasik kiser gancang seperti warung pojok ciptaan abdul azib dari daerah mayung kabupaten Cirebon, sementara untuk seniman tarling klasik kiser gancang ada uci sanusi dari klangenan Cirebon , sunarto dari kecamatan palimanan.
Sementara fase ketiga musik tarling mulai bervolusi dengan berbagai musik lain. Pada fase ketiga ini, para seniman menyebutnya tarling dangdut(1980-sekarang). Di fase ini, musik tarling sudah berkolaborasi dengan irama music dangdut nasional . Di sini tarling dangdut mulai berpengaruh musik dangdut Rhoma Irama.
“Tarling kita juga mulai menggunakan gendang dan orkes dangdut , drum , terompet , termasuk busananya seniman dangdut , “ sebut supali.
Dari sisi lagu tarling dangdut ini tidak lagi menggunakan notasi tradisional atau gamelan , irama lagu nya pun lebih cepat dari kiser gancang.
Tarling memang jenis kesenian grass root, tidak lahir dari keraton, musik ini tidak bersifat istana sentris yang memiliki pakem tersendiri atau ritme yang teratur seperti seni yang lahir dilingkungan dalem keraton. Musik ini mengalir seperti air dalam kehidupan masyakatnya. Oleh sebab itu, ia selalu berkembang mengiringi perubahan zaman. Syair-syair dalam tarling selalu menceritakan kisah sehari-hari yang sarat pesan moral, menggambarkan kehidupan masyarakat di pesisir pantura Jawa Barat. Nasehat, pegat-balen (Kawin Cerai), wayuan (Poligami), demenan (cinta), masalah rumah tangga, kebiasaan masyarakat (mabuk, maen, madon—minuman keras, judi, main perempuan), menjadi tema utama dalam lagu-lagu tarling.
Diawal perkembanganya syair tarling lebih mengadopsi pada kiser dermayonan dan cerbonan (sastra lisan semacam pantun). Seperti Jayana dalam kiser manunggal-nya yang masih bisa kita nikmati sampe sekarang. Menceritakan seorang Jayana tak luput dari cerita mengenai kemerduan suaranya, alkisah sewaktu ia tertangkap oleh tentara Belanda, segera ia dijembloskan ke penjara. Selama ia beberapa hari ia mendekam disana. Nasib baik berpihak padanya, kala tentara Belanda sedang bertengkar, mempermasalahkan masalah gitar. Jayana meminta gitar tersebut untuk dimainkannya. Dengan lihai dia petik, alunan melodi indah tarling dan suara khas Jayana menghipnotis tentara. Akhir cerita dia bisa melarikan diri.
Cerita Jayana dan mitosnya memang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi, begitulah adanya cerita yang berkembang di masyarakat. Seniman asal Karangampel Indramayu ini, memang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam memainkan gitar dan yang paling dielu-elukan adalah suaranya yang merdu, tinggi, dan ciri khas nada pesisiran.






0 komentar:
Posting Komentar