Kamis, 02 Januari 2020

Legenda Tarling

Legenda Hidup Tarling

Djana Partanain (80 tahun) atau yang akrab di di kenal dengan mama djana,saat memainkan petikan melodi tarling klasik pada gitar akustik miliknya di pemukiman Jalan Kapten Samadikun, Gang Melati 7 Nomor 28 Kebon Baru Utara, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon.
MESKI jari jemarinya tampak keriput, namun kepiawanan Djana Partanain (80 tahun) masih lihai dalam memainkan petikan melodi tarling klasik pada gitar akustik miliknya. Dengan kolaborasi perlengkapan musik yang sudah kuno, sesekali ia memainkan melodi di gitar elektrik yang dibelinya dari hasil manggung.

Lantunan melodi tarling klasik berpadu dengan suara gamelan dan suling terdengar syahdu dan merdu di pemukiman Jalan Kapten Samadikun, Gang Melati 7 Nomor 28 Kebon Baru Utara, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon.

Kakek tua yang akrab disapa Mama Djana ini dengan khusuk duduk termenung menikmati lantunan musik-musik tarling klasik tahun 1940 an. Bersama sejumlah teman sebayanya, Mama Djana terus mengasah kemampuan bermain melodi tarling klasik yang diciptakannya. Tak lupa, jajanan pasar pun tersedia di atas piring kecil untuk disantap saat berlatih karena tak ada jadwal manggung.

“Biar tidak lupa saja Nak. Saya dulu ngamen bareng teman-teman musisi tarling di warung nasi, hingga panggung ke panggung. Tapi sekarang cuma duduk di rumah, sesekali menunggu panggilan manggung saja,” tutur Mama Djana.
Mama Djana adalah satu dari sejumlah musisi tarling klasik Cirebon generasi kedua yang berhasil menciptakan melodi dalam lantunan lagu khas Cirebon. Melodi tersebut bernama “Kiser”. Pada perjalanannya, Mama Djana berada di posisi penting dalam perkembangan tarling klasik Cirebon. Bahkan, dari hasil karya yang selalu dikembangkan, Mama Djana sering manggung di berbabagai daerah di Indonesia, pada masa itu.

“Sekarang tidak ada kegiatan. Manggung juga sudah jarang dan hanya sesekali. Bahkan kalau ada acara budaya tradisi di Cirebon saya tidak pernah dipanggil untuk manggung,” keluh Djana.

Mama Djana menceritakan tentang perjalanannya menggeluti seni tarling klasik hingga akhirnya menemukan melodi Kiser. Dia menuturkan, awal mula tarling berkembang pada tahun 1940-an, saat itu Cirebon dan Indramayu tengah dijajah Belanda. Salah satu musisi tarling ternama pada era tersebut yakni “Sugro” dari Indramayu dan Pak Barang dari Cirebon. Awal mulai musik tarling ditemukan dari kemampuan Bapak Sugro bermain gamelan.

“Saat itu Pak Sugro menggabungkan musik dari gamelan ke dalam nada yang ada di senar gitar ditambah suling. Jadilah tarling, yaitu gitar dan suling,” tuturnya.
Seiring berkembangnya musik tarling, Jana pun mulai aktif menggeluti musik khas Cirebon sejak tahun 1946. Saat itu, Djana yang sering manggung bereksplorasi menggabungkan beberapa unsur musik ke dalam suara gitar sehingga menjadi melodi kiser.
Dijelaskannya, melodi kiser tarling klasik yang diciptakannya tersebut merupakan campuran lagu pada gamelan dan kroncong yang digabungkan dengan laras gamelan, pelog, slendro dan prawa khas Cirebon.

“Saya gabungkan banyak unsur musik tradisional Cirebon dan jadilah melodi kiser. Alhamdulillah banyak yang suka. Saya biasanya empat orang kalau manggung,” ujarnya.

Dari ciptaannya itu, Mama Djana pun menghasilkan banyak karya musik tarling klasik Cirebon. Namun, hingga berkembangnya zaman, musik tarling pun berubah menjadi musik organ tunggal dan dangdut cirebonan.

“Kalau lagu-lagu cirebonan yang terkenal banyak, ada kiser, waled, bendrong, barlen. Lagu tarling klasik menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon,” tuturnya.

Hingga berkembangnya musik di Cirebon, Mama Djana pun seakan tersingkirkan. Dalam kesehariannya, ia hanya berdiam diri di rumah sambil bermain gitar dan bernostalgia dengan karyanya sendiri. “Kalau ada teman-teman yang main ya latihan. Kadang saya juga ngajarkan anak-anak lain bermain gitar,” sebutnya.

Untuk menyambung hidup, Djana kini sangat bergantung dari anak serta cucu serta beberapa penghasilan dari manggung. Dia mengaku tidak tahu menahu soal royalti yang harus diterima ketika ada seniman lain membawakan musik tarling klasik ciptaannya. Dia juga mengaku khawatir era kejayaan tarling klasik Cirebon akan tergerus seiring dengan berkembangnya musik di era modern.

Djana mengaku, hingga saat ini belum banyak anak muda Cirebon yang berminat menjadi penerus musik tarling klasik. Terlebih, keaslian musik tarling klasik kini tidak banyak diketahui oleh masyarakat, khususnya seniman musik yang ada di Cirebon.

Menurut Djana, musik dangdut Pantura bukan bagian dari tarling. Pemerintah setempat, ungkap Djana, seakan cuek dan tidak ada keinginan untuk melestarikan musik khas Cirebon ini. “Ada juga dua anak muda sering ke rumah minta belajar ya saya ajari. Saya berharap banyak yang mau belajar dan saya siap memberikan ilmunya,” ujar Djana.
Share:

Kesenian Tarling

Kesenian Tarling Tradisi Cirebon Terancam Punah

Sekitar belasan kesenian tradisi Kabupaten Cirebon terancam punah. Pasalnya, sangat minim regenerasi dan kurang minatnya masyarakat untuk melestarikan kesenian tradisi.
“Puluhan sih nggak, tetapi belasan kesenian asli Cirebon yang terancam punah,” ujar Sekretaris Disbudparpora Kabupaten Cirebon, R Chaedir Susaliningrat kepada Radar Cirebon.

Belasan kesenian yang terancam punah tersebut menurut Chaedir lebih disebabkan sulitnya regenerasi. “

Penandanya, kata Chaidir, semakin ke sini jarang masyarakat yang memainkan kesenian tradisi Cirebon. “Kalau sudah tidak ada yang memainkan maka akan semakin jarang pula kesenian tersebut dipentaskan, sehingga mengakibatkan mengalami kepunahan,” paparnya.

Dia menyebutkan, salah satu kesenian tradisi yang hampir punah yakni kesenian brai. Brai ini saat ini hanya tersisa antara dua hingga tiga grup saja.

“Brai ini asli Cirebon yaitu berupa semacam paduan suara yang membawakan lagu-lagu salawatan dengan diiringi rebana dan genjring. Dan brai ini salah satu kesenian tertua dan diciptakan sejak zaman wali sanga,” sebut Chaidir.

Kesenian tradisional asal Cirebon lainnya yang kini hampir punah adalah seni tarling tarling (gitar dan suling). Kesenian tarling Cirebon mulai tergeser dengan musik-musik pop yang akarnya bukan dari luar.

Menurut Chaidar, seharusnya kesenian asli Cirebon ini bisa dijaga kelestariannya agar tidak mengalami kepunahan.  “Kesenian ini merupakan identitas dari masing-masing daerah, sehingga kesenian ini wajib untuk dilestarikan. Kesenian asli Cirebon tidak boleh kalah saing dengan yang lain di zaman modern ini,” tuturnya.

Selama ini Disbudparpora terus berupaya agar kesenian-kesenian yang diambang kepunahan bisa kembali dilestarikan. “Bukan Disbudparpora tanpa usaha, tetapi banyak usaha yang dilakukan kami untuk bisa mengembangkan kesenian yang akan punah ataupun kesenian yang lainnya. Karena itu adalah misi kami,” kata dia.

Chaedir mengungkapkan, cara melestarikan kesenian yang akan mengalami kepunahan, salah satunya Disbudparpora mengadakan pelatihan agar generasi muda bisa mengikuti. “Karena bagaimanapun generasi muda ini yang menjadi tumpuan agar kesenian ini tidak punah. Selain itu juga kita libatkan kesenian-kesenian dalam berbagai event, mungkin disesuaikan dengan event yang ada,” jelasnya.

Lanjut Chaedir, masyarakat saat ini memang kurang berminat untuk melestarikan kesenian tradisi. “Kalau minat masyarakat memang kita akui agak kurang, namun untuk wisatawan ini masih sangat besar untuk bisa melestarikan kesenian yang ada,” terangnya.
Karna kurang nya minat masyarakat terhadap tarling,seharus nya tarling lebih di kenal kan ke masyarakat sekitar atau pun pembelajaran tarling di sekolah yang ada di cirebon,generasi sekarang sanggat miris sekali,kesenian tarling sanggat jangan
remaja yang tau tentang seni ini,dan kesenian tarling harus lah di pertahan kan dan harus di budayakan walaupun semakin maju nya zaman dan tekonologi.Zaman moderen seperti ini seharus nya tarling bisa di populerkan melalui media sosial yang di punya.
Share:

penemu Tarling

Dari Gedung Kesenian Indramayu, Mengenang Mama Soegra Mengenal Tarling
(sugra penemu tarling)

MENGAPA Gedung Kesenian ini dinamakan Mama Soegra? Siapa Mama Soegra? Dan, banyak pertanyaan bergelanyut di pikiran tentang Mama Soegra.
Pertanyaan itu muncul saat radarcirebon.com menyambangi hajat besar Tembang Pantura Award 2019 RCTV di Gedung Kesenian Mama Soegra Kabupaten Indramayu
Dalam riwayatnya, tahun 1953 hingga tahun 1978, gedung ini dikenal sebagai Gedung Dokabu. Dokabu singkatan dari Dokter Kabupaten, karena disini digunakan sebagai kantor pemerintah untuk pelayanan kesehatan khususnya bagi Ibu dan Anak. Hingga tahun 2014, Pemerintah daerah indramayu menggunakannya sebagai kantor Dinas Kesehatan.
Bagi masyarakat awam pertanyaan tentang Mama Soegra menjadi keterwakilan untuk melihat sejauh mana sosok Mama Soegra dikenal oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia berkesenian dan berkebudayaan.
Bersama Kasie Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Kabupaten Cirebon, Asep Ruhiyat Somantri, SSn sosok Mama Soegra yang tidak begitu dikenal banyak orang dalam blantika kesenian tarling menjadi lebih akrab. Mama Soegra nyaris tenggelam oleh kebesaran nama-nama lain, seperti Jayana, Abdul Adjib, Sunarto Marta Atmaja, Dadang Darniyah, Dariyah, hingga generasi penerusnya, seperti Udin Zhaen, Sadi M., Ipang Supendi, ataupun Yoyo Suwaryo.

Sugra memang sosok seniman tarling masa lalu. Masa ketika panggung tarling hanyalah gelaran tikar di pekarangan rumah diterangi lampu tempel atau petromaks. Masa ketika tarling meramaikan hiburan warga yang tengah ‘ngobong bata’ (membakar batu-bata), ‘puputan umah’ (peresmian rumah baru), ataupun ‘kebo lairan’ (kerbau melahirkan). Masa ketika piringan hitam, pita kaset atau rekaman lainnya adalah sesuatu yang tak terbayangkan.

Sebagaimana penuturan Asep, sekitar dasawarsa 1930-an. Berawal dari kedatangan orang Belanda bernama Tuan Hendrik ke rumah ayah Sugra di Desa Kepandean, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu (sekarang menjadi Kelurahan Kepandean). Maksud Tuan Hendrik itu adalah minta tolong supaya ‘memberesi’ gitarnya yang rusak.

Sejarawan Indramayu Supali Kasim menyebutkan ayah Sugra yang bernama Pak Talam selama ini memang dikenal sebagai orang yang menguasai laras gamelan atau bunyi-bunyi nada.

Siapa sangka dari pertemuan itu menjadi suatu fenomena. Tuan Belanda itu sampai sekian hari belum juga mengambil gitarnya yang sudah selesai diberesi. Sugra dan ayahnya seringkali memainkan gitar dengan petikannya. Tentu saja petikan mereka berlaras gamelan. Menyesuaikan diri dengan bunyi gamelan.

Ternyata, bunyi gamelan itu bisa beralih pada petikan gitar. Terjadi suatu migrasi bunyi dari gamelan ke gitar. Seperti ada suatu rangkuman tersendiri dari berbagai alat gamelan menjadi hanya satu alat, yaitu petikan gitar. Sugra akhirnya piawai memainkan petikan gitar tersebut. Mengalunlah lagu-lagu klasik bernada kiser, seperti Dermayonan, Cirebonan, Keranginan, Rénggong (dulu namanya Kiser Gedhé).

Masih menurut Supali Kasim dalam tulisannya berjudul Mama Sugra: Dari Gitar Belanda yang Berdenting Terlahir Seni Tarling, pada dekade tersebut anak-anak muda mulai ‘kesengsem’ pada gitar dengan petikan laras klasik daerah. Bahkan mereka pun menambahinya dengan alunan suara suling bambu. Menurut Sugra, pada sekitar tahun 1935 kawan-kawannya berinisiatif menambahi bunyi-bunyian dengan ‘kotak sabun’ yang berfungsi sebagai kendang, serta kendi sebagai gong. Pada tahun 1936 ditambah ‘baskom’ dan ketipung kecil untuk melengkapi bunyi perkusi.

Kesenian tanpa nama itu akhirnya bernama juga. Awalnya ada yang menyebut sebagai “seni melodi”. Di kemudian hari lebih populer sebagai “tarling”, karena bertumpu pada dua alat musik utama yakni gitar dan suling. Ada pula yang menafsirkan sebagai “yén wis mlatar kudu éling” (jika sudah berbuat negatif harus insyaf).

Rombongan seni tarling Sugra mulai terbentuk. Dari mana ia mendapatkan gitar? Menurut Sugra, selama dua tahun ia mengumpulkan uang dengan bekerja, hanya untuk mendapatkan sebuah gitar. Warga seringkali mengundang kelompok tersebut untuk hiburan menemani ‘ngobong bata’, ‘puputan umah’, ataupun ‘kebo lairan’. Beranjak pula untuk acara khitanan.
Share:

Latar Belakang Mama Jana

Menganal Mama Jana

Jana menceritakan perjuangannya memperkenalkan tarling pada zaman kolonialisme. Jana juga tak memungkiri, zaman kolonialisme menjadi era kejayaan tarling klasik. Dikatakan Jana, era kejayaan tarling klasik mulai meredup di era orde baru.

"Tahun 1940 sampai 1960 tarling itu berjaya. Waktu itu tarling klasik berubah nama menjadi melodi kota udang. Tahu 1970 hingga 1980 tarling klasik mulai sepi peminat," kata Jana.

Jana mengaku banya momen yang tak terlupakan pada msa era kejaayaan tarling klasik. Jana harus bisa berbaur dengan para penjajah agar bisa mendapatkan kesempatan bermain tarling klasik.

"Pernah ditanya-tanya penjajah, mereka khawatir kita bawa pemberontak. Khawatir sih pasti, tapi tidak pernah menjadi tahanan. Seniman mah tak dilarang, karena hiburan," tuturnya.

Jana merupakan generasi kedua seniman tarling klasik di Cirebon. Sebelum Jana, Barang menjadi seniman tarling klasik generasi pertama. Awal mula kecintaan Jana terhadap tarling klasik lantaran kerap nimbrung bersama teman-teman seniman tarling waktu usianya masih 10 tahun.

"Saya mulai manggung itu setelah proklamasi. Awalnya sering ikut-ikutan gitar-gitaran bersama teman-teman. Lama-kelamaan nyantol, terus main dan manggung. Dulu mah sering diundang main ke hajatan-hajatan orang," paparnya.

Dari tahun 1940 hingga 1970-an, setiap harinya Jana disibukkan dengan manggung. Bahkan, diakui Jana, ia tak bisa menghitung berapakali ia manggung dalam sehari. Kondisi tersebut berputar 180 derajat dengan kondisi saat ini.

"Sekarang mah jarang manggung. Kadang sebulan sekali. Walaupun dulu ada kendala, kadang alat musiknya tak sampai lokasi karena jarak yang jauh. Dulu mah susah nyari alamat karena tidak ada handphone," ucapnya.

Perjuangannya merawat dan memperkenalkan tarling klasik masih terus ia lakukan. Bahkan, pemerintah pun mengakui kegigihan Jana sebagai 'Sang Maestro Tarling Klasik'. Tahun lalu, Kemendikbud mengundang Jana sebagai Sang Maestro untuk mengajar tarling ke 60 seniman muda dari berbagai daerah di Jakarta.

"Program Belajar Bersama Maestro (BBM) daei Kemendikbud. Dari 60 itu, hanya 20 yang lolos dan saya ajarka pakem-pakem tentang tarling," kata Jana seraya menunjuk pada piagam BBM yang ia terima dari Kemendikbud.

Belajar taling bersama mama jana ini tidak di pungut biaya, usia belajar kesenian tarling mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dan tidak hanya orang indosenia saja belajar tengang kesenian tarling ini orang liar negeri pun banyak yang menghampiri sanggar mamajana ini.

Sanggar Candra Kirana menjadi bukti perjuangan melestarikan tarling klasik hingga saat ini. Sebanyak 15 seniman tarling bergabung dengan sanggar yang ia kelola.Yang mengajar kan seni tarling mama jana beserta anak dan cucu nya yang saling membantu untuk mempertahan kan kesenian tarling ini, "Khawatir tarling klasik punah. Kita harus mencintai budaya kita," katanya.

Share:

Melodi Tarling

Melodi Tarling

Jari jemari Sudjana Partanain masih terlihat lihai saat memainkan musik tarling klasik khas Cirebon. Bersama teman sebayanya, kakek yang akrab disapa Mama Djana ini terus bermain musik seraya mengisi waktu luang di usia senjanya.

Sudjana Partanain merupakan satu dari musikus tarling klasik Cirebon generasi kedua yang berhasil menciptakan melodi dalam lantunan lagu khas Cirebon. Melodi tersebut bernama Kiser pada tahun 1940-an.

"Kalau tidak sama teman-teman ya saya petik sendiri gitar saya," kata Sudjana, Sabtu

Dari catatan sejarah, Mama Djana berada di posisi penting dalam perkembangan tarling klasik Cirebon. Bahkan, dari hasil karya yang selalu dikembangkan, Mama Djana sering manggung di berbagai daerah di Indonesia pada masa itu.

Ditengah perkembangan musik Pantura, Mama Djana masih konsisten memetik gitarnya. Sesekali ia memetik gitar elektrik hasil dari perjalanan karirnya manggung di berbagai tempat pada masa itu.

"Sekarang manggung hanya sesekali disamping usia tidak banyak orang yang nanggap tarling klasik lagi. Adapun yang banyak manggung ya sudah masuk kategori dangdut pantura," kata dia.

Mama Djana sempat berbagi cerita tentang perjalanannya menggeluti seni tarling klasik Cirebon hingga akhirnya menemukan melodi Kiser. Dia menuturkan, awal mula tarling berkembang pada tahun 1940-an.

Saat itu Cirebon dan Indramayu tengah dijajah oleh Belanda. Salah satu musikus tarling ternama pada era tersebut adalah Sugra dari Indramayu dan Barang dari Cirebon.
"Musik tarling ditemukan berasal dari kemampuan Sugra bermain gamelan. Saat itu Pak Sugra menggabungkan musik dari gamelan ke dalam nada yang ada di senar gitar ditambah suling. Jadilah tarling, yaitu gitar dan suling," tutur dia.

Seiring perkembangan musik tarling, Mama Djana mulai aktif menggeluti musik khas Cirebon itu sejak tahun 1946. Saat itu, Djana yang sering manggung bereksplorasi menggabungkan beberapa unsur musik ke dalam suara gitar, sehingga menjadi melodi kiser.

Melodi kiser tarling klasik yang diciptakan Mama Djana tersebut merupakan campuran lagu yang pada gamelan dan keroncong. Lagu tersebut kemudian digabungkan dengan laras gamelan, pelog, slendro dan prawa khas Cirebon.

"Saya gabungkan banyak unsur musik tradisional Cirebon dan jadilah melodi kiser. Alhamdulillah banyak yang suka. Saya biasanya empat orang kalau manggung," kata dia.

Dari ciptaannya itu, Mama Djana menghasilkan banyak karya musik tarling klasik Cirebon. Namun, hingga berkembangnya zaman, musik tarling pun berubah menjadi musik organ tunggal dan dangdut Cirebonan.

"Kalau lagu-lagu Cirebonan yang terkenal banyak ada kiser, waled, bendrong, barlen. Lagu tarling klasik menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon," tutur dia.
Share:

Tarling Cirebon

Tarling Cirebon 

Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong. Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama. Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon. Sejarah Tarling Cirebonan Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur. Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir. Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang 'istana sentris'. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah 'istana'. H Abdul Adjib, Pelopor Seni Tarling SENI tradisional tarling (gitar suling) identik dengan Cirebon. Namun, bisa pula dikatakan tarling identik dengan H Abdul Adjib (58). Dialah seniman yang mengangkat pamor tarling hingga bisa populer seperti sekarang. Di tangan Abdul Adjib, tarling bukan lagi sekadar seni musik yang mengandalkan instrumen gitar dan suling, tetapi sejak tahun 1964 menjadi seni pentas yang mempunyai daya pikat luar biasa. Berbagai lapisan masyarakat senantiasa merindukan kehadiran tarling saat pesta pernikahan, khitanan, syukuran rumah baru, pesta panen padi hingga pengangkatan kepala desa. Popularitas tarling kemudian juga mendorong munculnya grup-grup tarling sejak pertengahan 1970-an hingga sekarang dengan berbagai improvisasinya, seperti tarling dangdut, tarling jaipong dan sebagainya. Namun, di antara berbagai grup tarling yang bermunculan tersebut, "Putra Sangkala" pimpinan Abdul Adjib tetap menempati urutan teratas. Pesanan pentas tidak pernah berhenti sepanjang tahun, bahkan untuk permintaan pentas tidak bisa dilakukan dadakan namun harus pesan dan antre sekitar tujuh sampai delapan bulan sebelumnya. Lagu-lagu tarling pun seolah tidak pernah berhenti mengalir dari tangan Abdul Adjib. Lebih dari 300 lagu tarling telah diciptakan, antara lain yang sangat populer, Penganten Baru, Sopir Inden, Tukang Cukur, Kota Cirebon dan sejumlah lagu lainnya yang direkam di piringan hitam, kaset hingga CD. "Namun, saya tidak menikmati keuntungan royalti dari popularitas lagu-lagu tersebut karena semuanya dijual putus," keluh Adjib. Meski tidak menikmati keuntungan royalti, namun nyatanya nama Abdul Adjib sangat melekat di kalangan masyarakat Jawa Barat, terutama yang bermukim di sekitar pesisir pantai utara Jawa (Pantura). Penampilan Abdul Adjib dan grupnya yang kini bernama "Putra Suara" memiliki daya pikat luar biasa, sehingga penonton bisa terpaku di depan panggung sepanjang malam hingga dini hari terutama jika menampilkan lakon-lakon yang sangat populer, seperti Baridin dan Martabakrun. Di luar lakon tersebut, Abdul Adjib diakui banyak pihak memiliki keistimewaan dalam suara, improvisasi panggung dan membuat wangsalan (semacam pantun) yang diiringi musik tarling. Apa pun yang dilihat Adjib di atas panggung, bisa langsung dibuat wangsalan yang mempesona penonton mulai dari gadis remaja hingga orang dewasa.
Share:

sejarah tarling

Sejarah tarling

Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Jatibarang, Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong. Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya popular.
Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama. Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon.

Siapa yang tidak kenal dengan lagu warung pojok? Sebuah lagu yang telah diangkat menjadi satu lagu wajib peserta Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA), setiap 17 Agustus di Jakarta. Lagu dari daerah Cirebon ini diciptakan oleh seorang seniman Tarling. Sekalipun liriknya telah digubah ke dalam bahasa Indonesia, melodi musiknya masih tetap utuh.
Seni Tarling merupakan kesenian khas Cirebon dan Indramayu. Kesenian yang lahir sejak Indonesia dijajah oleh Belanda sekitar abad ke-19 ini, kini menjadi kesenian yang digemari masyarakatnya; terutama masyarakat Cirebon dan Indramayu.Istilah Tarling, merupakan sebuah singkatan dari nama alat musik pokok dalam penampilannya. Tar berasal dari kata ‘Gitar’ sedang ling berasal dari kata ‘Suling’. Sebagai seni teater rakyat materi tarling terdiri dari :
Seni Musik; Sebagai seni musik alat musiknya terdiri atas Gitar sebanyak 3 buah, gitar melodi, gitar pengiring dan bas gitar; sebuah suling Cirebon (di priangan disebut bangsing) yang dibuat dari bambu tamiang dengan diberi lubang sebanyak 6; seperangkat kendang (kendang besar dan kulanter); tutukan (kenong); sebuah gong; 1 set kecrek; sebuah tamborine; dan sebuah organ.
Penyany , Penyanyi Tarling terdiri dari penyanyi wanita (pesinden) dan penyanyi pria (wira swara). Pemeran Lakon; Sebagaimana halnya teater-teater rakyat yang hidup di Jawa Barat, dalam pementasan Tarling biasa diselingi sajian Lakon. Lakon cerita tersebut diperankan oleh pemeran khusus disamping para pemain musik dan penyanyi. Jumlah pemainnya disesuaikan dengan keperluan lakon yang akan dipentaskan. Terman lakonnya tidaklah terlalu berat, isinya hanya lukisan kehidupan masyarakat sehari-hari yang mudah dicerna oleh masyarakat pada umumnya. Untuk itu pemainnya pun tidak begitu banyak.

Penyanyi terkenal Tarling adalah antara lain: Aam Aminah, Nyi Dadang Darniah Biduanita Tarling Grup Endang Darna dari palimanan Cirebon.Pada umumnya seni Tarling dipentaskan terutama dalam acara hajatan masyarakat, baik pesta perkawinan maupun khitanan. Tarling sanggat lah populer di saat tahun 90an dan mulai memudar pada tahun 2000 an karna masuk nya musik musik lain,tarling terkalag kan dengan ada nya musik dangdut dan sekarang jarang anak anak muda yang mengetahui tentang tarling.
Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur. Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir. Untuk membuka perjumpaan kita, mari kita dengarkan sebuah alunan musik tarling khas Cirebon yang popular pada tahun 80-an berjudul "Pemuda Idaman" dinyanyikan Itih. S.
Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang 'istana sentris'. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah 'istana'. Sebelum 'resmi' bernama tarling, kesenian ini dikenal dengan sebutan 'melodi kota ayu' di Kabupaten Indramayu, dan 'melodi kota udang' di Cirebon. Pada 17 Agustus 1962, ketua Badan Pemerintah Harian (BPH, sekarang DPRD) Kabupaten Cirebon, menyebut kesenian itu dengan sebutan tarling. Nama tarling itu diidentikkan dengan asal kata 'itar' (gitar dalam bahasa Indonesia) dan suling (seruling). Versi lain pun mengatakan bahwa tarling mengandung filosofi "yen wis mlatar kudu eling" (jika sudah berbuat negatif, maka harus bertaubat). Baiklah pendengar VOI, inilah alunan musik Tarling klasik yang sangat sulit di temui saat ini.
Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup. Bahkan pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi. Perkembangan musik di Indonesia dan masyarakatnya yang semakin global membuat para seniman Tarling memikirkan kelanjutan dari seni tradisional tersebut.
Sebuah cara mengkolaborasikan dengan warna musik lain adalah pilihannya. Dangdutpun dipilih oleh para seniman Tarling untuk dilebur ke dalam seni tradisional Tarling. Hasilnya masyarakat Indonesia saat ini mengenal seni musik Tarling-dangdut. Sebagian seniman Tarling di cirebon menilai bahwa peleburan ini merusak sedikit demi sedikit seni Tarling klasik namun rupanya kebutuhan hidup tidak dapat diingkari untuk dipenuhi. Tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir Pantai Utara. Untuk menutup perjumpaan kita, mari kita dengarkan sebuah alunan musik tarling klasik berjudul "Banyu Urip" hasil karya Embi. C. Noer. Selamat mendengarkan dan sampai jumpa pada Pelangi Nada edisi musik tradisional berikutnya.
Para pengusaha hotel dan jasa lain di Kota Cirebon diimbau memperdengarkan lagu-lagu tarling Cirebon kepada pengunjung atau wisatawan yang datang. Musik tarling, dipandang otoritas terkait kalah pamor dibanding dangdut pantura. Dengan memperdengarkan tarling, para wisatawan atau pengunjung dapat lebih mengenal jenis lagu satu ini sebagai musik khas Cirebon.

"Kami sudah membuat dan mengedarkan surat imbauannya,” ungkap Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon, Dana Kartiman.
Kesenian tarling bahkan cukup banyak, seperti macapatan, gamelan renteng, tarling gamelan sekaten, angklung bungko, dan lainnya. Dia pun berharap pihak terkait, baik pengelola hotel, restoran, dan pengelola jasa wisata lain, dapat turut aktif melestarikan kesenian tarling Cirebon
Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Jatibarang, Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong. Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya popular.
Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama. Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon.

Siapa yang tidak kenal dengan lagu warung pojok? Sebuah lagu yang telah diangkat menjadi satu lagu wajib peserta Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA), setiap 17 Agustus di Jakarta. Lagu dari daerah Cirebon ini diciptakan oleh seorang seniman Tarling. Sekalipun liriknya telah digubah ke dalam bahasa Indonesia, melodi musiknya masih tetap utuh.
Seni Tarling merupakan kesenian khas Cirebon dan Indramayu. Kesenian yang lahir sejak Indonesia dijajah oleh Belanda sekitar abad ke-19 ini, kini menjadi kesenian yang digemari masyarakatnya; terutama masyarakat Cirebon dan Indramayu.Istilah Tarling, merupakan sebuah singkatan dari nama alat musik pokok dalam penampilannya. Tar berasal dari kata ‘Gitar’ sedang ling berasal dari kata ‘Suling’. Sebagai seni teater rakyat materi tarling terdiri dari :
Seni Musik; Sebagai seni musik alat musiknya terdiri atas Gitar sebanyak 3 buah, gitar melodi, gitar pengiring dan bas gitar; sebuah suling Cirebon (di priangan disebut bangsing) yang dibuat dari bambu tamiang dengan diberi lubang sebanyak 6; seperangkat kendang (kendang besar dan kulanter); tutukan (kenong); sebuah gong; 1 set kecrek; sebuah tamborine; dan sebuah organ.
Penyany , Penyanyi Tarling terdiri dari penyanyi wanita (pesinden) dan penyanyi pria (wira swara). Pemeran Lakon; Sebagaimana halnya teater-teater rakyat yang hidup di Jawa Barat, dalam pementasan Tarling biasa diselingi sajian Lakon. Lakon cerita tersebut diperankan oleh pemeran khusus disamping para pemain musik dan penyanyi. Jumlah pemainnya disesuaikan dengan keperluan lakon yang akan dipentaskan. Terman lakonnya tidaklah terlalu berat, isinya hanya lukisan kehidupan masyarakat sehari-hari yang mudah dicerna oleh masyarakat pada umumnya. Untuk itu pemainnya pun tidak begitu banyak.

Penyanyi terkenal Tarling adalah antara lain: Aam Aminah, Nyi Dadang Darniah Biduanita Tarling Grup Endang Darna dari palimanan Cirebon.Pada umumnya seni Tarling dipentaskan terutama dalam acara hajatan masyarakat, baik pesta perkawinan maupun khitanan. Tarling sanggat lah populer di saat tahun 90an dan mulai memudar pada tahun 2000 an karna masuk nya musik musik lain,tarling terkalag kan dengan ada nya musik dangdut dan sekarang jarang anak anak muda yang mengetahui tentang tarling.
Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur. Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir. Untuk membuka perjumpaan kita, mari kita dengarkan sebuah alunan musik tarling khas Cirebon yang popular pada tahun 80-an berjudul "Pemuda Idaman" dinyanyikan Itih. S.
Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang 'istana sentris'. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah 'istana'. Sebelum 'resmi' bernama tarling, kesenian ini dikenal dengan sebutan 'melodi kota ayu' di Kabupaten Indramayu, dan 'melodi kota udang' di Cirebon. Pada 17 Agustus 1962, ketua Badan Pemerintah Harian (BPH, sekarang DPRD) Kabupaten Cirebon, menyebut kesenian itu dengan sebutan tarling. Nama tarling itu diidentikkan dengan asal kata 'itar' (gitar dalam bahasa Indonesia) dan suling (seruling). Versi lain pun mengatakan bahwa tarling mengandung filosofi "yen wis mlatar kudu eling" (jika sudah berbuat negatif, maka harus bertaubat). Baiklah pendengar VOI, inilah alunan musik Tarling klasik yang sangat sulit di temui saat ini.
Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup. Bahkan pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi. Perkembangan musik di Indonesia dan masyarakatnya yang semakin global membuat para seniman Tarling memikirkan kelanjutan dari seni tradisional tersebut.
Sebuah cara mengkolaborasikan dengan warna musik lain adalah pilihannya. Dangdutpun dipilih oleh para seniman Tarling untuk dilebur ke dalam seni tradisional Tarling. Hasilnya masyarakat Indonesia saat ini mengenal seni musik Tarling-dangdut. Sebagian seniman Tarling di cirebon menilai bahwa peleburan ini merusak sedikit demi sedikit seni Tarling klasik namun rupanya kebutuhan hidup tidak dapat diingkari untuk dipenuhi. Tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir Pantai Utara. Untuk menutup perjumpaan kita, mari kita dengarkan sebuah alunan musik tarling klasik berjudul "Banyu Urip" hasil karya Embi. C. Noer. Selamat mendengarkan dan sampai jumpa pada Pelangi Nada edisi musik tradisional berikutnya.
Para pengusaha hotel dan jasa lain di Kota Cirebon diimbau memperdengarkan lagu-lagu tarling Cirebon kepada pengunjung atau wisatawan yang datang. Musik tarling, dipandang otoritas terkait kalah pamor dibanding dangdut pantura. Dengan memperdengarkan tarling, para wisatawan atau pengunjung dapat lebih mengenal jenis lagu satu ini sebagai musik khas Cirebon.

"Kami sudah membuat dan mengedarkan surat imbauannya,” ungkap Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon, Dana Kartiman.
Kesenian tarling bahkan cukup banyak, seperti macapatan, gamelan renteng, tarling gamelan sekaten, angklung bungko, dan lainnya. Dia pun berharap pihak terkait, baik pengelola hotel, restoran, dan pengelola jasa wisata lain, dapat turut aktif melestarikan kesenian tarling Cirebon.
Share:

INSTAGRAM

YOUTUBE

Diberdayakan oleh Blogger.